Menyoal Halal

Dengan saling menghormati dan menghargai apapun sikap dan keputusan yang diambil, hidup ini menjadi indah dan nyaman. Kalau sudah tercipta lingkungan yang indah dan nyaman, kekebalan tubuh akan cepat terbentuk melindungi tubuh. Dengan demikian goal tercapainya herd immunity bisa lebih cepat tercapai.

Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof Hasanuddin, fatwa vaksin AstraZeneca tetap bisa digunakan karena kondisi darurat dan ketersediaan vaksin yang halal masih terbatas. Vaksin berasal dari vektor virus yang memicu jawaban imunitas perlindungan tubuh. Disebutkan pemberian satu dosis vaksin mencukupi untuk mengembangkan antibodi pencegah Covid-19.Juga penyimpanan vaksin relatif mudah pada kulkas yang lazim. Nadia menjelaskan walau dalam prosesnya bersinggungan, vaksin AstraZeneca tetap bisa digunakan karena kedaruratan. Vaksin Corona yang berasal dari Inggris tersebut dalam proses pembuatannya disebut bersinggungan dengan babi.

Perusahaan farmasi Swiss Novartis telah memproduksi vaksin meningitis bebas daging babi, sementara AJ Pharma yang berbasis di Saudi dan Malaysia saat ini sedang mengerjakan salah satu vaksinnya sendiri. “Kami sudah mendapatkan statement letter dari Sinovac, kalau mereka menyatakan bahwa bahan baku yang diproduksi mereka itu tidak mengandung Porcine,” ungkapnya. Prof. Wiku bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan yang sudah menerbitkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization , vaksin AstraZeneca, menyatakan aman digunakan. Bagi yang tetap merasa tidak nyaman karena menganggap dengan suntik vaksin ini akan memasukan benda najis ke dalam tubuhnya silakan tingkatkan kewaspadaan dan kehati-hatiannya dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Selalu pakai masker, hindari kerumunan, selalu cuci tangan, rajin olahraga dan berjemur serta selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari wabah ini. Perbedaan hasil status hukum vaksin AstraZeneca antara MUI Pusat dan “bawahannya” MUI Jawa Timur yang di dukung oleh PWNU Jawa Timur berawal dari cara pandang dan prinsip hukum yang berbeda.

Berdasar teori ini, tripsin babi yang telah berbaur dengan zat lain yang lebih banyak yang tidak mengubah rasa, warna, maupun baunya, sesungguhnya tidak lantas melabelkan hukum vaksin tersebut sebagai barang yang haram. KETIKApemerintah ingin mengimpor vaksin Sinovac dari Tiongkok pada awal 2021, muncul perdebatan teologis di berbagai kalangan perihal standing hukum Islam. Di satu sisi, vaksin sangat dibutuhkan untuk memperkuat imunitas tubuh agar tidak terpapar Covid-19. Salah satu alasan yang mengemuka adalah adanya kekhawatiran pencampuran bahan vaksin dari tripsin babi. Sekadar diketahui, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam mengatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca tergolong haram karena dalam proses produksinya memanfaatkan tripsin babi.

Sinovac merupakan vaksin virus corona pertama yang masuk dan mendapatkan izin penggunaan darurat Badan POM Indonesia. Kemudian, diklaim juga bahwa vaksin Sinovac yang dikembangkan untuk menangkal Covid-19 mengandung babi. Pesan tersebut berisi ajakan menolak vaksin Sinovac menyusul kandungan babi dan racun yang membahayakan.

Vaksin Sinovac babi

Dalam pembuatan beberapa vaksin, tripsin akan ditambahkan ke tahap kultur akhir untuk mengaktivasi virus vaksin. Ketersedian vaksin COVID-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi COVID-19 guna ikhtiar mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity. Ditegaskan, semua tahapan produksi vaksin AstraZeneca tidak ada satupun yang memanfaatkan produk turunan babi. Pada saat pembibitan vaksin, ada unsur enzim tripsin untuk pembibitan vaksin. Namun setelah calon virus ditanam dan tumbuh, virusnya dipisahkan oleh tripsin.

“Vaksin ini telah disetujui di lebih dari 70 negara termasuk Arab Saudi,UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair, dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah menyatakan sikap bahwa vaksin diperbolehkan untuk para muslim,” pungkasnya. Perusahaan Bio-farmasi Moderna dari AS menyusul umumkan sukses dengan vaksin yang diberi nama mRNA-1273 dengan efektifitas 94,5%. Sama dengan BioNTech, vaksin dikembangkan dengan teknologi teranyar berbasis mRNA virus.