Menurut Fatwa Mui, Vaksin Sinovac Hukumnya Suci Dan Halal

Namun, berbeda dengan fatwa MUI pusat, justru MUI Jawa Timur menyatakan bahwa standing hukum vaksin AstraZeneca adalah halal. Ketua MUI Jawa Timur menjelaskan sebuah metafora kehalalan vaksin AstraZeneca seperti menanam pohon yang diberi pupuk dari kotoran hewan najis. Kemudian, buah yang dihasilkan pohon tersebut hukumnya suci untuk dimakan.

Wakil Menteri Kesehatan Kang Do-tae menyebut, Korea Selatan akan menjadi salah satu foundation produksi vaksin global. Pembentukan kemitraan vaksin antara Korsel dengan AS adalah untuk membangun basis produksi massal vaksin di dalam negeri dengan menggabungkan teknologi canggih AS dengan kemampuan produksi Korsel. Sampel vaksin COVID-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, eleven April 2020.

AstraZeneca dalam pernyataannya menegaskan vaksinnya tidak mengandung unsur babi. Lebih dari 70 negara muslim disebut telah menyetujui penggunaan vaksin asal Inggris tersebut. Demikian juga, MUI menyatakan vaksin ini ‘mubah’ untuk digunakan karena darurat. Ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna ikhtiar mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity. Hal tersebut sudah dikonfirmasi Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris. Ditegaskan mereka, semua tahapan produksi vaksin AstraZeneca tidak ada satupun yang memanfaatkan produk turunan babi.

Vaksin Sinovac babi

Asrorun Niam, Sekretaris MUI Bidang Fatwa mengungkap alasan lain yang menjadi pertimbangan penggunaan vaksin AstraZeneca. Menurutnya, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity. Atoilah kembali menjelaskan, tripsin babi yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin AstraZeneca dilakukan pada proses awal penanaman untuk menumbuhkan virus pada sel inang.

Dilansir dari halalMUI.org, Uji coba klinis vaksin COVID-19 telah memasuki tahap ketiga. Oleh karena itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Majelis Ulama Indonesia segera menyiapkan fatwa soal vaksin COVID-19. Menurutnya, Fatwa MUI soal vaksin COVID-19 sangat penting karena dinilai dapat memberi jawaban atas permasalahan yang terjadi dari perspektif hukum Islam. Dilansir dari Bisnis.com, PT Bio Farma telah mendapatkan surat pernyataan dari Sinovac Biotech Ltd. bahwa vaksin yang diproduksi tidak mengandung gelatin babi. Jakarta, CNBC Indonesia – Vaksin Sinopharm ternyata mengandung tripsin babi yang sebelumnya juga ditemukan di AstraZeneca. Hal ini juga yang membuat Majelis Ulama Indonesia menyamakan ketentuan kedua vaksin tersebut.

Itu setelah Korea Selatan melakukan penandatanganan kesepakatan dengan perusahaan vaksin Moderna dan Novavax. Dalam pesan yang beredar viral di media sosial itu berisi ajakan kepada sejumlah pihak untuk menolak vaksin Sinovac menyusul klaim kandungan babi dan racun yang membahayakan. Pada kriteria sistem jaminan halal poin keempat dijelaskan bahwa bahan yang digunakan dalam pembuatan produk yang disertifikasi tidak boleh berasal dari bahan haram atau najis. Perusahaan harus mempunyai dokumen pendukung untuk semua bahan yang digunakan.

Hoaks ini sangat berbahaya karena akan membuat orang percaya dan akhirnya malas pakai masker. Jakarta – Vaksin Sinovac, yang dikembangkan untuk menangkal COVID-19 akibat virus SARS-Cov-2, mengandung babi, demikian pesan yang beredar di berbagai media jejaring sosial. Setelah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari BPOM.

Atau intifa babi, atau bahan yang tercemar babi dan turunannya,” tegas Gus Yaqut. Harianjogja.com, JAKARTA – PT Bio Farma telah mendapatkan surat pernyataan dari Sinovac Biotech Ltd. bahwa vaksin yang diproduksi tidak mengandung gelatin babi. Dirinya juga meminta dalam program vaksinasi ini, agar pemerintah mulai pusat sampai yang paling bawah menyelenggarakan dengan sepenuh hati, jujur, dan bertanggung jawab. “Kedua tidak memanfaatkan bagian tubuh manusia atau jus minal insan. Ketiga bersentuhan dengan najis mutawasitah, sehingga dihukumi mutanajis, tetapi sudah dilakukan penyucian secara syar’i atau ta’hir syar’i,” katanya.